Cara Follow Up Setelah Interview yang Tepat dan Profesional

kandidat gugup saat interview kerja karena datang terlambat
Daftar isi

Sudah menjalani interview, tetapi hingga berhari-hari belum ada kabar dari HRD? Situasi ini kerap membuat kandidat merasa serba salah. Di satu sisi ingin menanyakan kelanjutan lamaran, di sisi lain khawatir dianggap tidak sabar atau justru meninggalkan kesan kurang baik. Padahal, jika dilakukan dengan cara yang tepat, follow up setelah interview justru bisa menjadi nilai tambah di mata rekruter, bukan sebaliknya.

Follow up bukan sekadar basa-basi menanyakan hasil wawancara. Kalau dilakukan dengan cara, waktu, dan bahasa yang pas, follow up bisa menunjukkan bahwa kamu memang serius dan antusias dengan posisi yang dilamar. Sebaliknya, follow up yang asal-asalan justru bisa jadi bumerang dan membuat rekruter berpikir dua kali.

Artikel ini akan membahas secara lengkap kapan waktu yang ideal untuk follow up, cara melakukannya melalui email maupun WhatsApp, contoh kalimat yang bisa langsung digunakan, hingga hal-hal yang sebaiknya dihindari.

Kenapa Follow Up Setelah Interview Itu Penting?

Banyak pencari kerja yang memilih diam dan menunggu tanpa melakukan apa pun setelah interview selesai, padahal sikap ini justru bisa membuat mereka kehilangan momentum. Follow up yang dilakukan dengan sopan sebenarnya menunjukkan profesionalisme, karena mengirim pesan follow up menandakan kamu menghargai waktu dan kesempatan yang sudah diberikan perusahaan.

Selain itu, follow up juga membantu menegaskan kembali ketertarikanmu terhadap posisi tersebut. Rekruter biasanya menemui banyak kandidat dalam waktu berdekatan, sehingga satu pesan follow up yang sopan bisa membantu mereka mengingat kembali siapa kamu di antara banyaknya kandidat lain. Daripada menunggu tanpa kepastian, follow up juga memberi kejelasan status lamaran, entah itu kabar baik atau sekadar informasi bahwa proses masih berjalan. Bahkan dalam beberapa kasus, kandidat yang melakukan follow up dengan baik justru dipertimbangkan ulang meski awalnya belum jadi pilihan utama.

Supaya follow up ini efektif, tentu kamu perlu memperhatikan bagaimana kesan yang kamu tinggalkan sejak awal proses seleksi. Sebelum bicara soal follow up, ada baiknya kamu juga memastikan sudah menghindari berbagai kesalahan fatal saat interview kerja yang bisa memengaruhi penilaian rekruter sejak sesi wawancara berlangsung.

Kapan Waktu yang Tepat untuk Follow Up Setelah Interview?

Timing adalah salah satu hal paling krusial dalam follow up. Follow up yang terlalu cepat bisa terkesan terburu-buru, sementara follow up yang terlalu lama membuat momentum kamu di mata rekruter memudar.

  1. 1×24 Jam Setelah Interview

Di rentang waktu ini, kamu belum perlu menanyakan hasil wawancara. Cukup kirimkan ucapan terima kasih atas kesempatan interview yang diberikan. Selain terkesan sopan, ini juga jadi cara halus untuk kembali “muncul” di ingatan rekruter setelah sesi wawancara selesai.

  1. Sesuai Timeline yang Dijanjikan Rekruter

Kalau di akhir sesi interview rekruter menyebutkan estimasi waktu pengumuman, misalnya akan dikabari dalam satu minggu, maka waktu terbaik untuk follow up adalah tepat setelah tenggat waktu tersebut lewat, bukan sebelumnya. Follow up sebelum waktu yang dijanjikan justru bisa terkesan kurang sabar.

  1. 5-7 Hari Kerja Jika Tidak Ada Timeline yang Disebutkan

Kalau di akhir interview rekruter tidak menyebutkan kapan hasil akan diumumkan, aturan umum yang bisa kamu pakai adalah menunggu sekitar 5-7 hari kerja sebelum mengirim follow up pertama. Ini memberi waktu yang wajar bagi tim rekrutmen untuk berproses tanpa membuatmu menunggu terlalu lama tanpa kepastian.

Baca juga: Etika Interview yang Wajib Kamu Ketahui Sebelum Wawancara Kerja

Cara Follow Up Setelah Interview Lewat Email

menulis email follow up setelah interview kerja dengan bahasa profesional

Email masih jadi kanal follow up paling umum digunakan, terutama untuk perusahaan yang proses rekrutmennya dilakukan secara formal. Ada beberapa hal yang perlu kamu perhatikan supaya email follow up terasa profesional dan enak dibaca.

Mulailah dengan subjek email yang jelas, misalnya “Follow Up – Wawancara Posisi [Nama Posisi] – [Nama Kamu]”. Subjek yang jelas memudahkan rekruter mengenali email kamu di antara puluhan email lain yang masuk setiap hari. Kalau kamu tahu nama penerimanya, sapa langsung dengan nama tersebut karena ini terasa lebih personal dibanding sapaan umum seperti “Yth. HRD”.

Setelah itu, awali isi email dengan ucapan terima kasih, sambil mengingatkan kembali kapan dan untuk posisi apa kamu diwawancarai. Baru kemudian sampaikan maksud email dengan sopan, yaitu menanyakan kelanjutan proses seleksi tanpa terkesan menuntut jawaban segera. Tutup email dengan kalimat positif yang menunjukkan bahwa kamu tetap antusias menunggu kabar baik dari mereka.

Menulis email yang baik juga berkaitan dengan bagaimana kamu membangun kesan sejak awal, termasuk saat menjawab pertanyaan interview dengan cara yang terstruktur dan meyakinkan. Kesan konsisten dari sesi wawancara sampai proses follow up akan membentuk citra kandidat yang profesional di mata HRD.

Cara Follow Up Setelah Interview Lewat WhatsApp atau Telepon

Di beberapa perusahaan, terutama startup atau bisnis skala kecil-menengah, komunikasi lewat WhatsApp jadi kanal yang lebih umum dibanding email. Kalau kamu memang sudah punya kontak WhatsApp rekruter, ada beberapa hal yang perlu kamu jaga supaya follow up tetap terasa sopan meski lewat kanal yang lebih santai.

Kirimkan pesan di jam kerja, dan hindari mengirim terlalu pagi, larut malam, atau di akhir pekan. Jangan lupa memperkenalkan diri di awal pesan, karena kamu tidak bisa mengasumsikan rekruter langsung ingat siapa kamu hanya dari nomor WhatsApp yang masuk. Gunakan bahasa yang tetap formal meskipun platformnya terkesan lebih santai dibanding email, dan hindari mengirim pesan berkali-kali dalam waktu berdekatan kalau belum ada respons, karena ini justru bisa terkesan memaksa.

Kalau kamu ragu apakah harus follow up lewat email atau WhatsApp, cara paling aman adalah menyesuaikan dengan kanal komunikasi yang paling sering digunakan rekruter selama proses rekrutmen berlangsung. Kalau dari awal komunikasi dilakukan lewat WhatsApp, lanjutkan follow up di kanal yang sama.

Baca juga: 5 Panduan Persiapan Kerja untuk Fresh Graduate, Terbukti Efektif!

Contoh Kalimat Follow Up Setelah Interview

Supaya kamu nggak bingung mulai dari mana, berikut beberapa contoh kalimat follow up yang bisa kamu jadikan referensi dan sesuaikan dengan situasimu.

Contoh follow up lewat email:

Selamat siang, Bapak/Ibu [Nama Rekruter],

Saya [Nama Lengkap], kandidat untuk posisi [Nama Posisi] yang berkesempatan mengikuti wawancara pada [tanggal interview]. Saya ingin mengucapkan terima kasih atas waktu dan kesempatan diskusi yang diberikan.

Melalui email ini, saya ingin menanyakan kelanjutan proses seleksi untuk posisi tersebut. Saya sangat antusias dan berharap bisa berkontribusi di [Nama Perusahaan].

Mohon informasinya jika ada perkembangan lebih lanjut. Terima kasih atas perhatian Bapak/Ibu.

Hormat saya, [Nama Lengkap]

Contoh follow up lewat WhatsApp:

Selamat pagi, Kak [Nama Rekruter]. Perkenalkan, saya [Nama Lengkap], kandidat posisi [Nama Posisi] yang interview pada [tanggal]. Saya ingin menanyakan kabar terkait kelanjutan proses seleksinya, Kak. Terima kasih banyak sebelumnya.

Kamu bisa menyesuaikan kalimat di atas dengan gaya bahasa perusahaan yang kamu lamar. Perusahaan dengan budaya kerja formal biasanya lebih cocok dengan bahasa baku, sementara startup atau perusahaan kreatif kadang lebih nyaman dengan bahasa yang sedikit lebih santai namun tetap sopan.

Hal yang Harus Dihindari Saat Follow Up Interview

Follow up yang salah kaprah justru bisa merusak kesan baik yang sudah kamu bangun selama proses interview. Salah satu yang paling sering terjadi adalah follow up yang terlalu sering, misalnya mengirim pesan setiap hari, yang justru bisa membuat rekruter merasa terganggu alih-alih terkesan.

Hindari juga menggunakan nada yang terkesan menuntut jawaban segera, apalagi follow up sebelum waktu yang dijanjikan lewat. Kedua hal ini bisa membuat kamu terlihat kurang sabar dan kurang memahami proses rekrutmen yang biasanya melibatkan banyak tahapan internal di perusahaan. Selain itu, jaga bahasa yang kamu gunakan supaya tidak terlalu informal, terutama untuk perusahaan dengan budaya kerja formal, dan jangan sampai lupa mencantumkan informasi penting seperti nama lengkap, posisi yang dilamar, dan tanggal interview, supaya rekruter tidak kesulitan mengidentifikasi kandidat yang dimaksud.

Kesalahan-kesalahan kecil seperti ini sebenarnya mirip dengan pola kesalahan yang sering terjadi saat interview itu sendiri, di mana detail kecil yang terlihat sepele justru bisa memengaruhi penilaian keseluruhan terhadap seorang kandidat.

Follow Up Tidak Direspons? Ini yang Harus Kamu Lakukan

menunggu kabar dengan tenang setelah follow up interview kerja

Kadang, meskipun sudah follow up dengan cara yang benar, kamu tetap tidak mendapat balasan. Kalau ini terjadi, beri jeda waktu sekitar 5-7 hari kerja lagi sebelum mengirim follow up kedua, dan tetap gunakan bahasa yang sopan meskipun kamu mungkin merasa kecewa karena belum ada kabar.

Penting juga untuk menerima kemungkinan bahwa posisi tersebut sudah terisi, karena tidak semua perusahaan memberi kabar resmi kepada kandidat yang tidak lolos. Daripada terus menunggu tanpa kepastian, lebih baik kamu tetap realistis dan lanjutkan mencari peluang lain, alih-alih menggantungkan semua harapan pada satu proses rekrutmen saja.

Kalau ternyata hasilnya memang belum sesuai harapan, jangan berkecil hati. Pahami dulu kemungkinan penyebab kamu belum lolos interview, lalu jadikan itu bahan evaluasi untuk kesempatan interview berikutnya. Menurut panduan dari Kitalulus tentang cara follow up lamaran kerja, follow up yang dilakukan dengan sopan dan pada waktu yang tepat justru bisa meningkatkan kesan positif kandidat di mata rekruter, meskipun hasil akhirnya belum tentu sesuai harapan.

Follow Up Setelah Interview untuk Fresh Graduate

Bagi fresh graduate, follow up setelah interview kadang terasa lebih menegangkan karena belum banyak pengalaman menghadapi proses rekrutmen. Padahal, kamu tidak perlu ragu untuk follow up meskipun ini interview pertamamu, selama dilakukan dengan sopan dan pada waktu yang tepat, karena follow up adalah hal yang wajar dan justru diharapkan oleh banyak rekruter.

Jadikan juga follow up ini sebagai ajang belajar dengan memperhatikan respons yang kamu dapatkan, supaya kamu lebih memahami budaya komunikasi dunia kerja yang sesungguhnya. Selama masa menunggu kabar, manfaatkan waktu tersebut untuk terus konsisten mengasah skill fresh graduate yang relevan dengan bidang incaranmu, supaya kamu makin siap menghadapi proses seleksi berikutnya.

Baca juga: Kenapa Fresh Graduate Susah Dapat Kerja? Ini 7 Penyebabnya

Follow up yang baik sebenarnya juga mencerminkan kesiapanmu secara keseluruhan dalam menghadapi dunia kerja. Kalau kamu merasa masih sering kesulitan di tahap wawancara atau bahkan belum banyak dipanggil interview, bisa jadi ini saatnya untuk mengevaluasi kembali strategi melamar kerja tanpa pengalaman yang selama ini kamu gunakan, sekaligus memperkuat persiapan sebelum wawancara kerja supaya peluang lolos ke tahap berikutnya semakin besar.

Berdasarkan penjelasan dari Glints mengenai email follow up setelah interview, mengirimkan follow up yang sopan dan pada waktu yang tepat dapat membantu kandidat terlihat lebih profesional sekaligus menunjukkan penghargaan terhadap waktu yang telah diberikan oleh pihak perusahaan.

Follow Up Saja Tidak Cukup, Persiapan Interview Tetap Jadi Kunci

Follow up memang bisa membantu kamu mendapat kejelasan lebih cepat, tapi jangan lupa bahwa fondasi utama untuk lolos interview tetap ada pada persiapan sebelum dan performa selama sesi wawancara berlangsung. Follow up yang baik tidak akan banyak membantu kalau dari awal kamu belum benar-benar siap menghadapi pertanyaan dari rekruter maupun user di tahap interview lanjutan.

Kalau kamu merasa masih perlu banyak berlatih, mulai dari cara menjawab pertanyaan, membangun kepercayaan diri, sampai memahami tips lolos interview HRD secara menyeluruh, ini bisa jadi momentum yang tepat untuk mencari pendampingan yang lebih terstruktur.

Siap Hadapi Interview dan Dunia Kerja Bersama ALC Talent

Menguasai cara follow up setelah interview memang penting, tapi itu hanya salah satu bagian kecil dari keseluruhan proses menuju dunia kerja. Supaya kamu lebih siap dari hulu ke hilir, mulai dari membangun skill, menyiapkan CV, berlatih interview, sampai mendapatkan kesempatan magang langsung di perusahaan, kamu bisa mengikuti program yang dirancang khusus untuk kebutuhan tersebut.

Melalui Bootcamp Siap Kerja ALC Talent, kamu akan mendapat pendampingan intensif untuk mengasah 12 skills wajib dunia kerja, simulasi interview langsung bersama mentor expert, hingga kesempatan magang di perusahaan ternama. Yuk, siapkan langkah kariermu dengan lebih matang bersama ALC Talent sekarang juga!

Bootcamp Siap Kerja ALC Talent untuk fresh graduate cepat kerja